Bank Sampah USK Tampung Botol Plastik, Kertas, Kardus hingga Minyak Jelantah, Ini Harganya
Sustainable Development Goals, Dipublikasikan pada:

BANDA ACEH – Tahun ini Bank Sampah Universitas Syiah Kuala (BSU) genap berusia lima tahun. Bank sampah ini enam hari dalam seminggu rutin menerima aneka sampah dari para nasabah (warga).
Nasabah BSU ini sejak tahun 2019 terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan masyarakat umum. Sampah-sampah yang diserahkan para nasabah tersebut, organik maupun nonorganik, umumnya masih bernilai ekonomi.
Sampah organik, seperti dedaunan dan ranting pohon, rerumputan, sabut kelapa, dan aneka kulit buah, biasanya diterima BSU untuk diolah jadi pupuk kompos. Kemudian dipasarkan untuk wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar.
“Untuk yang organik, sisa dapur atau sisa makanan, kita kembalikan ke nasabah 1/3 bagian dari hasil kompos yang jadi. Misalnya, dari sisa makanan yang disetor 9 kg, nasabah akan menerima 3 kg kompos jadi,” ujar Direktur BSU, Ir Rama Herawati MP, menjawab Serambinews.com di Kopelma Darussalam, Banda Aceh, Sabtu (22/6/2024) sore.
Sedangkan sampah anorganik, misalnya botol air mineral, tutup botol, kardus, kertas, kaleng, seng, dan kuningan biasanya dipres, lalu dijual ke Medan, Sumatera Utara.
“Per minggu sedikitnya 8 ton sampah anorganik dari BSU kita kirim ke Medan. Pengusaha di sana menampungnya sebagai bahan baku pabrik untuk diolah kembali,” kata Rama.
Rama Herawati menggarisbawahi bahwa semua sampah yang sudah terpilah dan dipres itu dibawa ke Sumatera Utara untuk diolah sebagai bahan baku pabrik.
“Jadi, kita kirim ke sana bukan dalam bentuk sampah, melainkan bahan baku pabrik untuk diolah lagi,” kata alumnus Program Studi Ilmu Tanah pada Fakultas Pertanian USK ini.
BSU juga menampung minyak jelantah (minyak goreng bekas pakai). Per liter minyak jelantah dibeli BSU dengan harga Rp 4.000 dari nasabah. Minyak jelantah itu sumbernya dari dapur rumah tangga, pesantren, boarding school, maupun dari dapur restoran, resto cepat saji, kafe, bahkan hotel.
Bila minyak jelantah dibeli BSU dengan harga Rp 4.000 per liter, botol plastik air mineral (pet) juga dibeli BSU dengan harga Rp 4.000 per kg. Itu dengan catatan, apabila botol plastiknya sudah dipisahkan tutupnya dan sudah dicopot pula stiker (etiket) merek atau iklannya.
“Kalau tutup botol plastiknya belum dipisah dan stiker mereknya belum dicopot, harganya hanya Rp 1.500/kg. Soalnya, pabrik enggan membeli botol plastik bekas yang masih ada merek atau iklannya,” terang Rama.
Tutup botol plastik dibeli BSU dengan harga Rp 4.000/kg. Sedangkan pipa paralon Rp 1.500/kg. Kaleng dan seng juga dibeli BSU masing-masing dengan harga Rp 3.200 dan Rp 1.600/kg.
Adapun kertas HVS bagus dibeli BSU Rp 1.700 per kg, HVS cincang bulit Rp 1.100/kg, dan kotak atau kardus Rp 1.400 per kg.
Material yang paling mahal dibeli BSU adalah tembaga super kasar mencapai Rp 125.000/kg, tembaga super serabut Rp 120.000/kg, kuningan Rp 78.000/kg, dan timah Rp 13.000/kg.
Namun, BSU tidak setiap hari membayar ‘cash’ sampah organik dan anorganik yang diantarkan kepada mereka. “Kita sudah tetapkan bahwa pencairan dana hanya seminggu sekali, yakni pada setiap hari Kamis,” kata Rama.
BSU ini terletak di belakang Gedung Kantor Urusan Internasional atau Office of International Affair (OIA) USK. OIA berada di depan gedung baru Fakultas Teknik USK. Ke BSU sering berkunjung tamu dari PTS maupun PTN lainnya. Rata-rata mereka ingin belajar teknik pengelolaan sampah (waste management) dari BSU.
Rama Herawati juga menerangkan bahwa di BSU kini ada empat mesin, yakni mesin press, mesin penggiling daun, mesin ayak kompos, dan mesin pengerat ranting. “Semua mesin ini sumbangan PLN Aceh kepada BSU,” kata Rama Herawati.Kegiatan ini juga dimuat di media nasional (Serambinews, 22 Juni 2024).
Source: